Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata

Permisan, Keindahan Tersembunyi di Nusakambangan

 

Pagi ini saya mendapat kesempatan menyusuri kembali beberapa lembaga pemasyarakatan di pulau Nusakambangan. Bersama dengan rekan kerja dan pembimbing kegiatan di Lapas Permisan Nusakambangan. Perjalanan yang seru dimulai dari dermaga Wijayapura, yaitu dermaga penyeberangan khusus untuk ke Pulau Nusakambangan. Penjagaan yang ketat nampak sejak dari halaman parkir dermaga ini, petugas, pintu besi, mesin x ray dan pagar kawat yang terlihat kokoh.

Jarum panjang  jam dinding medekati angka 12, semua mulai bergegas menuju kapal Pengayoman III, sebuah kapal penyeberangan ukuran kecil, mengangkut beberapa truk, mobil dan sepeda motor sipir dan pegawai proyek Lapas. Dan saya tertinggal kapal untuk menyeberang, dengan terpaksa harus menggunakan kapal compreng untuk menyeberang. Kapal dengan ukuran kecil yang dapat mengangkut sekitar 10 sepeda motor dan 20 penumpang yang terbuat dari kayu.

Selama 10 menit perjalanan membelah selat antara pulau Nusakambangan dengan pulau Jawa nampak aktivitas industri dan nelayan yang berada disekitar dermaga. Kapal tongkang yang mengangkut lime stone, gudang tepung dan kapal kapal pengangkut minyak mentah tampak tak jarang di wilayah ini.

Tampak sangat gagah, sebuah papan dengan tulisan “Nusakambangan” menyambut setiap pengunjung yang akan singgah dipulau Nusakambangan. Sebuah gerbang dengan pintu besi warna abu abu, gapura dengan pagar besi dan kawat berduri membuat kesan tersendiri bagi orang yang belum pernah datang ke tempat ini.

Segera setalah kami turun, sebuah bus ukuran kecil berwarna abu abu menghampiri kami. Petugas dengan baju hitam, celana taktikal dan sepatu lapangan membuat kesan sigap. Memasuki bus, kamipun dibuat seolah olah menjadi tahanan, karena bus yang kami pakai merupakan bus untuk evakuasi tahanan. Bus dengan ruang isolasi, jeruji besi dan pintu dengan keamanan tinggi, namun bersih. Sejauh 15 km kami tempuh dalam waktu 20 menit perjalanan. Yang kami tuju pertama kali adalah Pantai Permisan.

Pulau Nusakambangan sangat terkenal untuk membuang “sial” sejak jaman mataram, bahkan pada tahun 1600M penjahat dan pengajau wilayah Mataram dibuang di pulau ini. Pada tahun 1890an, para pemberontak Aceh juga dibuang di Nusakambangan. Mereka melakukan kerja paksa dengan mebuka lahan karet dan membangun sebuah lapas. Lapas Permisan yang paling tua di Pulau Nusakambangan konon merupakan salah satu kerja para tahanan dan pemberontak. Dibelakang Lapas permisan terdapat sebuah perumahan bagi sipir yang berhadapan dengan sebuah Lapas Super Maximum Security, pagar besi dengan duri terlihat 3 lapis sebelum pintu masuk ke Lapas.

Keindahan tersembunyi terlihat sekitar 500 meter ke arah selatan, dengan jalan beraspal yang mengantar hingga sebuah gardu pandang yang menghadap ke laut. Terdapat sebuah karang dengan piasau komando menancap diatasnya, adalah penanda sudah berada di pantai Permisan. Pantai yang juga digunakan untuk pembaretan Kopasus memiliki pemandangan yang sangat indah. Karang karang yang berwarna hijau tersusun acak dengan pasir putih yang menambah indah pantai ini. Pantai yang pernah terkena Tsunami pada tahun 2006 pernah rusak dan menghancurkan gardu pandang yang berada di sekitar pantai, namun keindahannya tetap terjaga hingga saat ini.

Di pantai ini kami menikmati jajanan yang kami bawa dari Cilacap, jajan pasar yang dibungkus dengan daun pisang, dan air kelapa muda menjadi teman bersantai. Kamipun berswafoto untuk mengabadikan keindahan tempat ini dan berpose disekitar bongkahan karang dan pasir putih.

 

 

SUASANA DALAM LAPAS

 

Lapas yang kami tuju adalah Lapas Permisan, berada di sisi selatan pulau Nusakambangan. Bangunan dengan atap rendah, pintu kayu tua berwarna abu abu dan keamanan sedang. Petugas lapas menyambut ketukan pintu kami dengan sebuah bilah ruang 25x25cm yang digeser. Pintu dibukakan setelah mengetahui keberadaan kami. Adalah bu Heni sodikin yang memandu kami sampai dengan didalam lapas.

Pemeriksaan yang dilakukan di dermaga Wijayapura mulai dari meninggalkan KTP, semua baawaan melewati X ray hingga penggeledahan memudahkan kami dalam pemeriksaan kami selanjutnya di dalapas Permisan. Kunjungan kami disambut baik oleh Kepala Lapas, Pak Yan sapaannya. Sembari mengeluarkan makanan kami berbincang tentang wacana ekonomi kreatif warga binaan untuk dijadikan barang produksi dengan nilai jual tinggi. Suasana hangat terjalin dalam bincang bincang kami yang hanya sebentar. Sajian teh dalam cangkir oleh “tamping dalam“  kami nikmati selagi hangat.

Kamipun menuju workshop, kerajinan batik yang sudah terisi oleh napi napi yang sedang membatik. Ruangan cat putih dengan aroma malam yang kuat menjadi ruangan ini begitu pekat dengan atmosfer batik. Sebanyak 30 orang nampak sedang mengerjakan beberapa bagian dalam membatik, mulai menggambar dengan pensil, mewarnai, nyanthing, hingga mewarnai. Semua dikerjakan oleh warga binaan yang menggunakan seragam berwarna biru.

Kamipun melewati sebuah lorong layaknya rumah sakit jaman dahulu, suasana angker sedikit terasa, lembab, gelap dan sesekali tercium aroma keringat manusia. Terang saja bangunan lapas ini telah berdiri sejak tahun 1908, meninggalkan suasana koloni Belanda di tiap sudutnya. Beberapa pintu kayu masih terbuat dari susunan kayu jati peninggalan jaman kolonial. Hingga sampailah kami kepada sebuah sudut ruangan dengan warga binaan yang sedang membuat keset. Keset keset ini dibuat oleh warga binaan sebagai salah satu upaya memberikan ketrampilan, sehingga kelak merka bebas mereka memiliki bekal untuk bekerja.

Ternyata bukan hanya kerajinan keset yang berada di tempat ini, nampak dalam ruangan dengan atap rendah terdapat mesin mesin bubut dan amplas untuk kerajinan kayu. Pembuatan kerajinan kayu dengan akrilik dan resin juga merupakan salah satu pelatihan yang banyak diminati. Bukan hanya resin, ruangan ini juga menghasilkan kaligrafi kaligrafi yang indah. Beberapa terpampang di sudut ruangan. Perjalanan menyusuri lorong juga melewati beberapa unit usaha bagi warga binaan, diantaranya loundry, menjahit, baking (membuat kue) dan handycraft kipas.

Perjalanan pulang kamipun disambut kegiatan band warga binaan. Hingga akhirnya kamipun dipaksa untuk menyanyikan 2 buah lagu yang dipopulerkan oleh Didi Kempot. Ya, kami adalah sobat ambyar! Suasana pecah, sangat meriah dengan seluruh warga ikut bernyanyi lagu “layang Kangen”. Sungguh sesaat kami lupa kalau kami berada di dalam lembaga pemasyarakatan. Tempat dimana kami bernyanyi bersebelahan dengan bengkel motor yang digunakan untuk modifikasi motor. Tampak sebuah streetcub warna merah dengan lengan ayun yang diubah ceper. Konsep chopper dikawinkan dengan streetcub menjadi dasar modifikasi motor ini. Mesin honda C70 tampak gagah dengan ornamen ukir warna silver dan perpaduan warna hitam. Kamipun berbincang dengan modifikatornya, yang merupakan warga purwokerto. Didalam nampan sebuah motor vintage dengan mesin scorpio yang belum selesai pengerjaannya. Tangki motor BMW tahun 60an dengan jok kulit warna coklat single ride, dual shock dan ban ukuran besar membuat motor berwarna hitam ini sangat gagah. Ternyata kami singgah didalam bekas sell tahanan. Kami merasa sedikit pengap karena ruangan dicat hitam dan merah. Alas kami duduk terbuat dari cor semen yang dulu merupakan tempat tidur tahanan. Diskusi kamipun usai dengan foto bersama. Iseng kami bertanya asal mereka, ternyata sangat beragam, mulau sumatera utara, kalimantan, lombok, jakarta hingga purwokerto. Tampaknya Lapas permisan ini merupakan lapas dengan penghuni dari seluruh Indonesia, bahkan warga negara asing juga tidak sedikit ditempat ini.

Akhir perjalanan kami dilapas Permisan ini adalah dengan adanya kerjasama dengan pembina kerajinan batik bahwa untuk Purbalingga Fair batik hasil warga binaan Lapas Permisan akan mewakili Cilacap untuk booth