Ekowisata Tambaksari Beserta Lembaga Adat desa Hanum Akan Laksanakan Sedekah Kupat

 

Sebanyak 20 Desa yang ada di Kecamatan Dayeuhluhur bersama Lembaga Adat Desa akan melaksanakan event Sedekah Kupatbesok  pada 21 September 2022 yang bertempat di Desa Wisata Tambaksari. Sedekah kupat ini akan dilaksanakan secara serentak dengan 20 Desa lainnya, selain itu juga akan didukung oleh kesenian adat, dan kesenian tradisional lainnya.

Sejarah Sedekah Kupat

Ada banyak versi yang melatarbelakangi event ini, diantaranya adalah sejarah versi Kerajaan Sunda Galuh. Versi Jaman Dayeuhluhur Masih Menjadi wilayah Kerajaan Sunda Galuh atau  Versi Puraga. Versi ini berdasarkan penelitian pada pantang larangan Sidekah kupat dan mitos harimau di acara tersebut. Menurut legendanya konon di jaman Prabu Siliwangi ( Siliwangi Kuna Prabu Ciung Wanara dan Raja Guruminda ) ketika beliau akan memperbaiki istananya setiap tahun, beliau selalu menyuruh prajuritnya untuk mencari suatu bahan kayu tertentu yang ada diwilayah hutan Dayeuhluhur, dan kegiatan itu setiap tahunnya dilalukan setiap menjelang Bulan Mulud, maka pada Setiap Menjelang bulan Mulud, tepatnya di hari rabu wekasan masyarakat Dayeuhluhur melakukan upacara adat menyambut kedatangan Prajurit Siliwangi di batas desa dengan cara menggantungkan ketupat di batas desa, yang disebut Sidekah Kupat Ngadatangkeun. Dan setelah hari itu maka masyarakat dilarang masuk ke hutan, sebab di sana Para prajurit Siliwangi (maung-maung Siliwangi) sedang Bekerja. Dan masyarakat menggantung ketupat salamet di rumah sawah dan kandang ternak sebagai penanda untuk supaya selamat dari gangguan (penjarahan) para “Maung” tersebut, dan para “maung’ pun Faham bahwa tanda ketupat salamet tersebut berarti sipemilik rumah tersebut sudah ikut upacara menyambut mereka di hari rabu wekasan tersebut. Kurang lebih setelah sekitar duapuluh hari atau satu bulan, para prajurit itu sudah mendapatkan apa yang mereka cari maka ketika akan pulang, Masyarakat dayeuhluhur kembali melakukan Sidekah Kupat yang ke dua tapi yang dibatas desa yang berbeda untuk mengantarkan kepulangan mereka, yang disebut Sidekah Kupat Mulangkeun. Dan setelah itu masyarakat boleh kembali melakukan aktivitas di hutan seperti berburu dan mengambil hasil hutan. Ttradisi tersebut terus belanjut ke jaman raja dan adipati dayeuhluhur yang konon masih keturunan Prabu Siliwangi. ( Catatan : Orang Dayaluhur secara tradisi tutur menyebut setiap raja Sunda dari berbagai jaman itu dengan sebutan Siliwangi. Wawancara narasumber Ki Danya ).